Kamis, 12 Desember 2013

Puisi Manah

Pagi datang mengganti sunyi merenda mimpi yang masih tertata rapi,,
Entah datang ataupun pergi namun harap kan selalu membias indah dalam hati,,
Meski kadang menyayat perih,,
Namun mereka tak pernah berhenti merajut asa yang menjadi takdir manusiawi,,
Pun ketika mentari pergi menjauh diri meninggalkan keluh yang menghampar DiSawah fanatika,,
Saat dimana hijau datang menyambut basah ladang yang kering kerontang,,
Teronggok kemarau menetes kecil bak embun yang tak sempurna,,
Saat itu hitam langit pun takkan bisa menutup mata dunia yang berbinar indah,,
Dimana luka bermetamorfosa tak lagi meradang memar,,
Membawa senyum itu melebar di bibir hati yang dulu penuh dengan Tanya..
Dan,,
Merentasnya dalam pelukan bahagia,,
Di mana hari indah membelai jiwa, memangkas kisah keujung lena,,
Hari di mana mata bertatap raga yang lama merindu dalam aliran darah,,
Rintik2 hujan membasah cinta yang bergejolak menembus debaran nadi yang Menggelora,,
Mentaripun seakan layu malu memandang hati dalam tinggi angkasa yang tak Bersuara, tersipu dan merayu ku dalam buaian tangan lembut sang dewi hawa,,
Hari itu baru ku membias rasa dalam manik2 kehidupan yang begitu membangga Dada,,
Mungkin aku tak peduli pemikiran primitif dulu,,
Yang mengayun ku kuat, dan membuat ku tergolek lemas,,
Karna hidup ku adalah aku yang begitu penuh arti,,
Dan takkan pernah berubah membingkai rasa yang hanya semu belaka,,
Karna,,
Nyata rasa itu hanya sebatas ego pemimpin tak bernahkoda,,
Yang hanya berkaca atas nama penguasa raga,,
Dalam bingkai mewah protokoler yang tak berlaku dalam kepercayaan langit dan tanah,,
RR0y1u0l6i0a0t9i8M6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar