Pagi
datang mengganti sunyi merenda mimpi yang masih tertata rapi,,
Entah
datang ataupun pergi namun harap kan
selalu membias indah dalam hati,,
Meski
kadang menyayat perih,,
Namun mereka tak
pernah berhenti merajut asa yang menjadi takdir manusiawi,,
Pun ketika
mentari pergi menjauh diri meninggalkan keluh yang menghampar DiSawah fanatika,,
Saat dimana
hijau datang menyambut basah ladang yang kering kerontang,,
Teronggok
kemarau menetes kecil bak embun yang tak sempurna,,
Saat itu hitam
langit pun takkan bisa menutup mata dunia yang berbinar indah,,
Dimana luka
bermetamorfosa tak lagi meradang memar,,
Membawa senyum
itu melebar di bibir hati yang dulu penuh dengan Tanya..
Dan,,
Merentasnya
dalam pelukan bahagia,,
Di mana hari
indah membelai jiwa, memangkas kisah keujung lena,,
Hari di mana
mata bertatap raga yang lama merindu dalam aliran darah,,
Rintik2 hujan
membasah cinta yang bergejolak menembus debaran nadi yang Menggelora,,
Mentaripun
seakan layu malu memandang hati dalam tinggi angkasa yang tak Bersuara, tersipu
dan merayu ku dalam buaian tangan lembut sang dewi hawa,,
Hari itu baru ku
membias rasa dalam manik2 kehidupan yang begitu membangga Dada,,
Mungkin aku tak
peduli pemikiran primitif dulu,,
Yang mengayun ku
kuat, dan membuat ku tergolek lemas,,
Karna hidup ku
adalah aku yang begitu penuh arti,,
Dan takkan
pernah berubah membingkai rasa yang hanya semu belaka,,
Karna,,
Nyata rasa itu
hanya sebatas ego pemimpin tak bernahkoda,,
Yang hanya
berkaca atas nama penguasa raga,,
Dalam bingkai
mewah protokoler yang tak berlaku dalam kepercayaan langit dan tanah,,
RR0y1u0l6i0a0t9i8M6